Kamis, 16 Februari 2017

MAKNA FILOSOFIS PADA AKSESORIS PAKAIAN ADAT LAMPUNG PEPADUN

Domumentasi Pribadi



      SIGOR/ SIGER  (Mahkota Wanita Lampung)
Berjurai/berlekuk 9 :
Makna pertamanya adalah jumlah suku atau Buwai pertama yang menempati Lampung ada 9 Suku/Buwai.
Makna kedua adalah Provinsi Lampung ini di Aliri oleh 9 sungai Besar,
Makna ketiga adalah mencerminkan Makna Syahadat yakni 9 huruf pada Muhammad Rasulullah (Mim,Ha,Mim,Dal, Ro, Syin, Lam, Lam, Ha).
Berisi aksesoris Kembang Cempaka maknanya bahwa sipemakai diharapkan memiliki daya tarik dan mewangi seperti kembang untuk orang-orang disekitarnya
Di atas atau Puncak Mahkota terdapat Aksesoris Serajo Bulan maknanya bahwa sipemakai diharapkan bisa memiliki harkat dan martabat yang tinggi serta dapat menyinari dengan cahaya yang sejuk bagi orang-orang disekitarnya.
      GELANG KENUI (Gelang Burung Menghadap ke atas)
Bahwa sipemakai memiliki hak dan kebebasan dalam berbicara, berpendapat, dan bersikap.
      GELANG KANO (Berbentuk Bulat Melingkar)
Bahwa sipemakai diharapkan bisa menyatukan keluarga dan membulatkan kebersamaan dalam keluarga.
      GELANG KERUWI/ GELANG MEKAH
Bahwa sipemakai diharapkan telah memiliki kesempurnaan dalam menunaikan ibadah menurut syariat Agama. 
GELANG BIBIT
Bahwa sipemakai merupakan calon atau bibit untuk bisa menumbuhkan dan mengembangkan kebaikan kelak bagi keluarga dan keturunannya. 
BUAH MANGGUS
Aksesoris sebagai tempat atau wadah perhiasan dan gantungan sapu tangan sebagai alat untuk membersihkan keringat atau kotoran pengantin. 
RANTAI BULAN TEMANGGAL (Kalung berbentuk siger bulan sabit)
Bahwa sipemakai diharapkan bisa memiliki harkat dan martabat yang tinggi serta dapat menyinari dengan cahaya yang sejuk bagi orang-orang disekitarnya.
SELEMPANG SABIK INUH (Selempang Tasbih Bunga)
Bahwa sipemakai diharapkan telah memiliki pengetahuan atau ilmu pengetahuan di dunia dan ilmu pengetahuan di akhirat. 
RANTAI SABIK BULUH PERINDU (Kalung Buluh Perindu)
Bahwa diharapkan bagi siapa saja yang melihat sipemakai menjadi terpikat dan selalu merindukannya. 
SELAMPANG PINANG BUAH JUKUM
Bahwa sipemakai diharapkan bisa terlindungi dari orang-orang yang berniat jahat kepadanya. 
BOKBOT BULU SERATI (Ikat Pinggang Bulu Angsa)
Sebagai Pengikat Pinggang penyempurna
Bulu Serati (Bulu Angsa) bermakna bahwa bulu kulit luar hewan yang berfungsi untuk melindunginya dari hal-hal yang tidak diharapkan.

Kamis, 26 Januari 2017

REPUBLIK GADUH

Para penjilat menggonggong
Hingga buaya menangis untuk mendapat sekerat roti

Bajing-bajing loncat berkelindan
Pada tubuh-tubuh gendut babi buta yang terus menerus lapar

Badut-badut duduk manis berbaris berpadu suara riuh rendah
Kadang bersuara sumbang, fales dan sumir

Tikus-tikus tua muda jantan betina berpesta ria diselingi festival perangkap berseri
Disana robot-robot buta dan wayang-wayang bekerja tanpa jiwa

Macan luka dilepas tuannya
Bidak-bidak dan domba yang dahaga diadu oleh pelindung dan penjaganya
Pecah belah meledak kesana kemari menjadi monster yang tak bisa dikendali

Boneka-boneka hedon berkiblat liberal komat kamit berceloteh liar
Bagaikan makhluk-makhluk paranoid yang phobia level dua belas
Entah lupa sejarah
Entah dangkal ilmu
Atau memang dungu

Entahlah,
Aku tak akan bertanya kegaduhan ini kepada para kecebong apalagi robot-robot virtual
Mereka gak ngerti apa-apa.

Raja Ratu, 26012017
 

Sabtu, 21 Januari 2017

Tantangan (Ka) Polda baru Lampung



Oleh : Zainudin Hasan,SH,MH.*
 
Kepolisian Daerah Lampung (Polda) kini telah resmi menyandang Polda tipe A sesuai dengan surat keputusan Kepala Kepolisian republik indonesia Jendral polisi Tito Karnavian bernomor B/5342/X/2016/SRENA bertanggal 25 oktober 2016. Pengukuhan ini secara langsung telah dilaksanakan oleh Irwasum Mabes Polri Komisaris Jendral Dwi Prayitno di Lapangan Mapolda pada hari sabtu 29 Oktober 2016 yang lalu disaksikan oleh para tamu undangan baik dari pemerintah daerah dan dari berbagai instansi serta lembaga di Provinsi Lampung .
Pertama-tama adalah kita ucapkan selamat bertugas kepada Kapolda yang baru bapak Brigjen Soejarno dikepolisian Daerah Lampung menggantikan bapak Brigjen Ike Edwin Kapolda sebelumnya yang kini ditugaskan sebagai Kasespimma Sespim Polri Lemdikpol di Mabes Polri. Berdasarkan ketentuan, kenaikan Polda dari tipe B ke tipe A tersebut secara otomatis akan menaikkan status kepangkatan kapolda dari sebelumnya brigadir jendral (bintang satu) menjadi inspektur jendral (bintang dua) yang nampaknya tidak lama lagi akan dilantik dan dikukuhkan. Naiknya status Polda Lampung dari tipe B ke tipe A tentu saja harus diiringi dengan sejumlah pembenahan diinternal kepolisian, meningkatkan kinerja dengan cara melakukan evaluasi, membersihkan oknum-oknum nakal, penegakan kode etik secara transparan dan adil, melakukan penambahan personil untuk menyesuaikan jumlah pegawai Polda sehingga memang layak menyandang Polda tipe A, menekan angka kriminalitas yang tinggi, mengatasi dan menanggulangi konflik, pemberantasan pungutan liar, pemberantasan pengedaran dan penyalahgunaan narkoba, tindak pidana korupsi, sampai pada peningkatan pelayanan publik mulai dari pelayanan pembuatan dan perpanjangan SIM, optimalisasi pelayanan di Samsat, hingga peningkatan pelayanan pada masyarakat mulai dari tingkat Polsek, Polres hingga Polda.
Kapolda yang baru saja dilantik tentu saja memiliki tugas yang berat karena beliau setidaknya memiliki beban moral dengan kenaikan tipe Polda Lampung yang sebelumnya tipe B sekarang telah menjadi tipe A. Selain membenahi kondisi internal pekerjaan rumah Kapolda yang nampaknya sampai sekarang belum tuntas adalah masalah pemberantasan begal sampai keakar-akarnya, tingginya angka pencurian kendaraan bermotor (curanmor), memberantas pungutan liar dan konflik antara warga yang setiap saat selalu meletus, serta peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat.
Sebagai institusi yang memiliki tugas untuk menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat tugas kepolisian memiliki tanggung jawab yang sangat besar, kondisi masyarakat Provinsi Lampung yang majemuk dan kompleks menjadi peluang munculnya berbagai macam persoalan masyarakat, untuk dapat menyelesaikan setiap permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat, polisi tidak serta merta bertindak tanpa dilandasi oleh kemampuan yang baik dan mendukung. Menurut Bayley (1994) dalam tulisan Chrysnanda : untuk mewujudkan rasa aman mustahil dapat dilakukan dengan cara-cara yang konvensional yang dibuat oleh birokrasi yang rumit, mustahil terwujud melalui perintah-perintah yang terpusat tanpa memperhatikan kondisi setempat yang sangat berbeda dari tempat yang satu dengan tempat yang lain.
Masalah begal dan curanmor, Lampung cukup dikenal sebagai “wilayah penghasil” begal di Indonesia bahkan para pelaku yang beraksi di pulau jawa merupakan pemain yang berasal dari Lampung, bahkan telah menjadi rahasia umum bahwa ada suatu wilayah di Lampung yang merupakan wilayah atau kampung yang dijadikan sebagai tempat penadahan kendaraan curian dan “sarang” pelaku curanmor. Sebagai Provinsi yang sedang melangkah maju hal ini tentu saja memberikan citra yang tidak baik terhadap Lampung dan berakibat buruk terhadap iklim investasi dan menghambat kemajuan serta perkembangan perekonomian.
Terkait masalah konflik di Lampung baik konflik warga masyarakat yang terjadi antara kampung satu dengan kampung yang lain, antara masyarakat dengan perusahaan, antara suku yang satu dengan suku dan lain, atau konflik yang terjadi karena faktor lainnya. Salah satu contoh konflik antara warga masyarakat yang telah terjadi hanya dalam hitungan hari dari dilantiknya Kapolda, pada hari jumat tanggal 4 November yang lalu nyaris terjadi bentrok antara warga kampung Kedaton Induk Kecamatan Batanghari Nuban, Kabupaten Lampung Timur dengan warga kampung Sritejo Kencono, Kecamatan Kota Gajah, Lampung Tengah. Sama halnya dengan kasus pembegalan dan curanmor, tingkat konflik dilampung dibilang cukup tinggi yang disebabkan berbagai faktor yang tentu saja harus dicari akar permasalahannya dengan melakukan deteksi dini pada daerah-daerah yang rawan konflik, deteksi dini adalah salah satu cara yang ampuh untuk mencegah, sehingga benih-benih konflik dapat minimalisir bahkan dapat dihilangkan di bumi Sai bumi ruwa jurai ini.
Beberapa persoalan diatas adalah tantangan bagi Kapolda beserta jajarannya dikepolisian daerah lampung dimulai dengan melakukan pembenahan internal dan peningkatan pelayanan kepada masyarakat adalah sebuah keniscayaan yang harus dilakukan. Dibutuhkan konsistensi dan komitmen yang kuat untuk memperbaikinya, perbaikan kualitas dan kuantitas Sumber daya manusia yang lebih profesional, humanis, jujur dan amanah dengan cara memperketat seleksi dan menegakkan disiplin kode etik pegawai, karena melalui seleksi yang benar dan penegakan disiplin pegawai yang benar pula dapat dihasilkan sumberdaya manusia yang benar-benar berkualitas. Dalamhal pelayanan publik, profesionalisme dalam bekerja, melakukan penghapusan pungli untuk memberikan pelayanan yang prima kepada masyarakat harus menjadi komitmen utama karena ukuran standar keberhasilannya hanya dapat dilihat dengan meminimalisir keluhan masyarakat terhadap kinerja kepolisian.
Melihat program Kapolda Lampung yang sebelumnya yaitu anjau silau, rembug pekon, dan polisi dimana-mana adalah termasuk program yang berjalan cukup baik dan layak dilanjutkan dan ditingkatkan lebih baik lagi. Program rembug pekon adalah salah satu program warisan yang telah mendapatkan Polmas Award pada tahun 2015 lalu, melalui program tersebut pihak kepolisian melaksanakan program melalui langkah-langkah preventif dengan cara merangkul masyarakat sehingga dapat tercipta lingkungan yang aman dan damai, melalui cara tersebut dapat dicegah konflik sosial secara dini melalui kearifan lokal yang ada ditengah-tengah masyarakat Lampung.
Hal yang terkait dengan masalah premanisme, pencurian dengan kekerasan, narkoba, terorisme dan komunisme, serta pungutan-pungutan liar yang kadang dibekingi oleh para preman dan oknum bisa diberantas dengan meningkatkan peranan satgas-satgas yang memang sudah ada seperti satgas anti narkoba, satgas anti Radikalisme Terorisme dan Komunisme (RTK), satgas Operasi Pemberantasan Pungli (OPP), dan Tim khusus anti bandit (Tekab) 308 yang merupakan bentukan polri ditingkat kepolisian daerah yang pembentukannya secara khusus fokus kepada tugas masing-masing perlu terus ditingkatkan kinerjanya. Melakukan evaluasi dan optimalisasi kinerja satgas-satgas yang memang sudah terbentuk secara terintegrasi karena masing-masing satgas meskipun ruang lingkup kerja dan sasaran yang berbeda namun sesungguhnya saling berkaitan satu sama yang lain.
Tugas lain yang tidak kalah penting dan mendesak adalah persiapan pengamanan tahapan Pilkada 2017 yang akan dilaksanakan secara serentak pada bulan Februari di 5 kabupaten di Lampung yaitu di Tulang Bawang, Tulang Bawang Barat, Mesuji, Pringsewu, dan Lampung Barat. Wilayah-wilayah zona merah yang memilki potensi konflik tinggi perlu diwaspadai dengan cara melakukan 3M (mendeteksi, mengatasi, dan menanggulangi) sehingga hal-hal yang tidak diinginkan bisa diminimalisir dan ditanggulangi.
Akhirnya, diakhir tulisan ini besar harapan saya selaku bagian dari masyarakat Provinsi Lampung terhadap naiknya status Polda Lampung menjadi tipe A, apalagi dengan Kapolda yang baru bisa menaikkan kinerjanya baik dari segi perbaikan internal kepolisian, perbaikan kualitas pelayanan publik maupun dari segi memelihara dan menjaga keamanan, kedamaian, serta ketertiban di Provinsi Lampung, karena keamanan warga masyarakat merupakan syarat utama tumbuhnya perekonomian sehingga dapat terwujud masyarakat Lampung yang adil, damai, makmur, dan sejahtera.
Waalahualam bisshawab.

Jumat, 23 Desember 2016

Filosofi warna dalam persidangan

Tulisan ini akan mencoba memaparkan tentang filosofi warna dalam ruang sidang, seperti kita ketahui bahwa warna-warna yang sering kita lihat diruang sidang ada beberapa macam seperti warna hijau pada meja (baik meja hakim maupun meja penuntut umum dan penasehat hukum), warna hitam pada toga atau jubah hakim, penuntut umum dan penasehat hukum, warna putih pada dasi, warna merah dan lain-lain. warna-warna yang ada tersebut sebenarnya memiliki nilai-nilai filosofi yang memiliki tujuan yang luhur yang layak dimaknai oleh setiap orang khususnya bagi mahasiswa fakultas hukum dan para penegak hukum.
Berikut ini adalah makna filosofi warna dalam persidangan atau ruang sidang:

Warna Hitam pada jubah atau toga hakim, penuntut umum dan penasehat hukum maknanya adalah berkabung. Berkabungnya lembaga peradilan atas terjadinya suatu tindak pidana atau suatu peristiwa melawan hukum.

Warna Putih pada dasi hakim, penuntut umum dan penasehat hukum maknanya adalah hati yang bersih. Artinya bagi hakim, penuntut umum dan penasehat hukum dalam menjalankan setiap tugasnya baik dalam hal menuntut, membela, dan memutuskan suatu perkara harus dilandaskan pada hati yang bersih.

Warna Hijau pada meja hakim, penuntut umum, dan penasehat hukum maknanya adalah tempat bertanding, sama permaknaannya dengan lapangan hijau meja hijau adalah tempat bertandingnya bagi penuntut umum dan penasehat hukum dengan cara-cara yang sesuai dengan aturan.

Warna Merah pada bed jubah hakim maknanya adalah berani, artinya seorang hakim harus memiliki keberanian dalam memutuskan setiap perkara yang telah ia terima tanpa memandang perkara apa dan siapa yang ia sedang tangani.

Demikianlah beberapa makna filosofi tentang warna-warna yang ada dipersidangan yang penting diketahui dan dapat dijadikan sebagai dasar kita untuk dapat menghormati setiap proses-proses yang ada di dalam persidangan.
Waalahualam bisshowab.

  

Rabu, 28 September 2016

Reklamasi 01

"Bekerja melawan Tuhan"

gunung dikeruk
rawa diuruk
laut ditimbun jadi rumah
hutan rimbun rusak dijamah

bukit jadi perumahan
rawa jadi pemukiman
dalihnya bagus demi pembangunan
manusia rakus cari keuntungan

sumber resapan habis dijarah
mereka lupa Tuhan bisa marah
longsor datang membuat resah
banjir bandang menerjang parah

rakyat kecil menjadi susah
makan tidurpun menjadi payah
ulah manusia yang serakah
membuat semesta menjadi tak ramah

lindungi tanaman cintai lingkungan
sayangi alam lestarikan lingkungan
beri keseimbangan rawat keberlangsungan
bagi keturunan dimasa depan

#PusatKhidmat
#BL 280916

Rabu, 04 November 2015

Sesan

Sesan; Barang Bawaan Mempelai Wanita untuk keluarga (Pada Adat Lampung Pepadun)


Oleh: Zainudin Hasan,SH,MH*
Pengertian Sesan
Masyarakat Suku Lampung Pepadun (Sungkai Bunga Mayang, Way Kanan Buway Lima, Abung Siwo Mego, Mego Pak Tulangbawang, dan Pubian Telu Suku) pada saat melangsungkan pernikahan anak Perempuannya memiliki budaya memberikan barang baik berupa surat dan atau "harta bergerak dan tidak bergerak" seperti seperangkat perabot rumah tangga lengkap kepada anak perempuan dan calon suaminya yang dinamakan Sesan (sebagian menyebutnya Sansan). Jadi pengertian Sesan adalah barang baik berupa surat dan atau "harta bergerak dan tidak bergerak" seperti seperangkat perabot rumah tangga sebagai sarana pindah Jenganan (rumah keluarga yang baru penganten) sebagai tanda kenang-kenangan dari orang tua, handai taulan dan saudara pengantin perempuan (Kelama, Kemaman, Kenubi, dll) mulai dari yang besar sampai pada yang paling kecil yang diberikan oleh keluarga mempelai perempuan.  Saya katakan berupa barang atau surat dan atau harta bergerak dan tidak bergerak karena selain berupa perabotan rumah tangga yang sudah jamak kita lihat pada tradisi Sesan, ada juga Sesan yang berupa Rumah/atau tempat tinggal, Mobil/atau kendaraan, Emas, Perak, berlian, surat berharga dan lain-lain yang pada intinya diberikan oleh pihak keluarga pengantin perempuan untuk menjalani mahligai rumah tangganya bersama sang suami. 
Sesan tersebut akan diserahkan kepada pihak keluarga laki-laki umumnya pada saat acara resepsi pernikahan berlangsung yang sekaligus sebagai penyerahan mempelai wanita kepada keluarga laki-laki.


Sumber Sesan
Sesan yang telah dibelanjakan dalam bentuk barang tersebut berasal dari:
1)      Tengepik (uang yang ditinggalkan oleh calon pengantin perempuan, hal ini berlaku untuk perempuan yang Bakbai atau larian); atau
2)      Serah (apabila calon pengantin perempuan melalui proses lamaran atau khitbah); dan
3)      Tulung (berasal dari kerabat calon pengantin perempuan seperti: Orang tua, Mehani (saudara laki-laki), kelepah (saudara perempuan), Kelama (saudara laki-laki ibu dan keturunannya), Kemaman (saudara laki-laki bapak), Kenubi (sepupu dari pihak saudara perempuan ibu), dll dan/atau uang tambahan dari pihak pengantin laki-laki sesuai kesepakatan antara kedua belah pihak sebelum pernikahan berlangsung.
Apabila dilihat dari sumber dan barang-barang yang diberikan oleh pihak keluarga perempuan sudah selayaknya apabila uang Tengepik atau Serah pada orang Lampung terbilang cukup besar, sesan inilah yang merupakan salah satu sumbernya (diluar biaya-biaya nikah, acara adat, begawi, hingga ke resepsi/pesta/walimah). Sehingga adalah salah kaprah apabila ada penilaian dari pihak luar bahwa ‘mengambil’ gadis Lampung itu ‘biayanya mahal’, hal itu tidak lain dan tidak bukan uang yang telah diberikan oleh pihak laki-laki akan kembali dalam bentuk barang-barang perabotan rumah tangga bahkan biasanya dalam jumlah nilai yang lebih besar.  
Kegunaan Sesan
Sesan merupakan perabotan rumah tangga siap pakai mulai dari Furniture (Meja, kursi, lemari, Tempat tidur), Perlengkapan Kamar mandi, Perlengkapan dapur dan perlengkapan makan, sehingga fungsi dari sesan tersebut memang benar-benar untuk digunakan oleh keluarga pengantin baru pada kegiatan sehari-harinya di rumah tangganya mulai dari memasak, mencuci, mengepel, menyetrika dan lain sebagainya.
Waalahualam bisshawab.

Salam Tabik.

Rabu, 14 Oktober 2015

Pisaan

Pisaan adalah salah satu sastra lisan Lampung, sejenis pantun (seloka) yang terdapat dikalangan masyarakat Lampung (Sungkai, Pubian, dan way Kanan).  ditempat lain, sastra lisan ini disebut (re)ringget oleh masyarakat Lampung (Abung, Menggala, Marga Sekampung, dan Melinting) dan Wayak/ngehaheddo/hahiwang oleh masyarakat Lampung (Pesisir).
Pembacaan Pisaan pada saat pelepasan pengantin perempuan. Doc Pribadi

Biasanya pisaan dinyanyikan pada saat melepas keberangkatan seorang gadis menuju rumah suaminya, pada saat acara adat seperti pada acara muda-mudi Canggot, dan pada saat acara adat pemberian nama atau gelar adat Begawi Cakak Suntan.
Dari segi bentuk, pisaan dapat disebut juga pantun berantai atau pantun berkait, baris keempat pada bait pertama menjadi baris pertama pada bait kedua, baris keempat bait kedua menjadi baris pertama bait ketiga dan seterusnya.

Rabu, 27 Mei 2015

Membangun Bandar Lampung, Membangun Citra Sebuah Kota


Apa yang terlintas dipikiran anda apabila saya tanyakan “Sebutkan sebuah kata atau kalimat yang mencerminkan tentang Kota Bandar Lampung?” Apakah Tugu Gajah, Kopi, Durian, Siger, Begal, Kota Tapis, Tanah Lada atau Sai Bumi Ruwa Jurai?, mana yang paling dominan terlintas dipikiran anda?. Lalu apa yang terlintas dipikiran anda ketika saya tanyakan hal serupa tentang Kota Bandung, Jogjakarta, Solo, Pekalongan, Garut, Makassar, atau Jakarta? Macet kah, Batik, Dodol, Penghasil Kerajinan, rawan konflik dan lain sebaginya.  Kemudian Apa yang anda pikirkan ketika saya tanyakan tentang Amsterdam, Roma, Paris, Kairo, New York, Mekkah, Hiroshima, Shanghai, Dubai dan lain sebagainya tentu saja pikiran bawah sadar anda akan secara cepat mengindentikan citra kota (city branding) tersebut terhadap apa yang ada dibenak anda misalnya mengindentikkan Kairo kota pelajar dengan Kampus Al Azhar, Paris kota romantis dengan Menara Eiffel, Mekah tempat ibadah dan ziarah dengan Kakbahnya, Dubai kota gemerlap dengan bangunan-bangunan pencakar langitnya dan seterusnya. Identiknya pikiran ada tentang city branding tersebut tidak lepas dari informasi yang anda dapat sehari-hari baik dari buku-buku maupun media cetak dan elektronik atau pengalaman langsung anda ketika berada disana berdasarkan pengetahuan, pengamatan dan pengalaman, semua akan cepat anda jawab dalam hanya hitungan detik. 

Sebuah citra kota (city branding) umumnya terbentuk secara alamiah dan dalam jangka waktu yang panjang (evolutif) berdasar berbagai faktor yang menyertai tumbuh kembangnya sebuah kota. Peristiwa bersejarah yang pernah terjadi atau sebuah fungsi yang sangat signifikan yang melekat pada kota biasanya menjadi faktor utama pembentuk citra Kota. Namun demikian, tidak berarti upaya membangun atau memperkuat citra sebuah kota semata mata bergantung pada takdir sejarah. (Bani Noor Muchamad, Konsep Ekspresi Kota Sebagai Pendekatan Membangun Atau Memperkuat Citra Kota). Berdasarkan pengertian city branding di atas, proses pembentukan citra sebuah kota memerlukan waktu yang relatif panjang baik dari sisi faktor latar belakang sejarah maupun secara alami yang didukung oleh faktor-faktor pada saat berkembangnya sebuah kota. 

Membangun citra sebuah kota tidak hanya semata-mata membangun dari segi fisik seperti membangun lambang kota dengan proyek-proyek mercusuar atau dengan semboyan-semboyan indah. Membangun citra kota adalah dengan cara membangun semangat, fisik, ruh dan mental kota, isi kota dan apa saja yang ada dan terlibat di dalamnya. Membangun citra sebuah kota tidak cukup sekedar membangun Tugu, Patung atau mempopulerkan semboyan-semboyan indah, bagus, agamis dan lain sebagainya seperti contoh: Bertapis, Berseri, Beriman, Bertaqwa, Berjaya, dan lain-lain. Patung.. Tugu.. kata-kata atau slogan indah secara teori namun kosong “ruh budaya sejarah” dan hampa realisasi hanya akan menjadi “sampah” jalanan saja.

Bandar Lampung bukanlah kota yang baru berdiri, usianya sudah ratusan tahun. Tahun ini Kota Bandar Lampung akan memasuki usianya yang ke 333 (17 Juni 1682- 17 Juni 2015) bukan usia kota yang dibilang Baru, usianya telah melampaui usia Republik ini, jauh sebelum merdeka kota ini telah bergeliat menjadi bagian dari jalur perdagangan hasil perkebunan rempah-rempah, pertumbuhan ekonomi, tumbuh dan berkembangnya akulturasi budaya, daerah tujuan transmigran, tujuan wisata dan daerah transit, persinggahan, pertemuan, pulau Sumatera yang terdekat dengan pulau Jawa, sangat strategis yang kedepan peluangnya sangat besar untuk menjadi kota Metropolitan baru penyangga ring satu kota Jakarta yang sudah mulai “renta” dan penuh sesak.

Untuk satu dekade kedepan, apabila dibandingkan dengan kota-kota lain di pulau Sumatera, kota Bandar Lampung mempunyai prospek yang paling cerah dari segi pembangunan, laju pertumbuhan ekonomi, sektor pendidikan dan pertumbuhan usaha. Bersamaan dengan itu lambat laun Bandar Lampung akan menjadi sorotan tersendiri bagi investor dan pihak luar tentang Kota ini, sehingga dengan tanpa menghilangkan cita rasa dan ciri khas lokal Lampung itu sendiri city branding kota Bandar Lampung wajib dibentuk dan dipoles sedemikian rupa.

Pencitraan sebuah kota perlu dilakukan secara fokus, terarah dan hendaknya konsep city branding tidak memulai dari nol atau dari awal, akan tetapi dengan meneruskan citra yang pernah atau sudah ada yang telah menjadi ciri khas dari sebuah kota tersebut. Blue Print pembangunan Kota harus dibuat, atau apabila memang sudah ada harus ada implementasi blue print tersebut secara terarah, terencana, konsisten, dan berkesinambungan.  Jalan lain untuk membangun city branding adalah dengan cara mengikis citra negatif kota, seperti macet, kotor, kumuh, banyak sampah, banyak gelandangan pengemis, kota yang tidak aman dan citra-citra negatif lain melalui cara-cara yang terprogram, terukur, dan terus-menerus.  Perencanaan sebuah kota harus juga ditunjang dengan citra atau brand sebagai kekhasan sebuah kota yang bertujuan di samping meningkatkan nilai jual tetapi juga menjadi daya tarik dalam merebut sumber daya potensial sehingga pada gilirannya nanti diharapkan mampu menggerakkan perkembangan kota itu sendiri, baik dari segi pergerakan ekonomi, budaya, sektor pariwisata dan lain sebagainya.  

Pencitraan sebuah kota perlu dilakukan secara terus menerus, kontinyu, berkesinambungan, sistematis dan massif.  Pencitraan Kota perlu sebuah proses yang bertahap, berjangka panjang, komprehensif, dan membutuhkan konsistensi dalam penerapannya. Jadi bukan sebuah ikhtiar yang sporadis dan musiman belaka. Meskipun begitu harus diingat pula bahwa langkah mewujudkan city branding harus tetap realistis dan membumi. 

Akhirnya, semoga saja kedepan siapapun pemimpinnya bisa dengan jeli melihat potensi yang ada, Kota Bandar Lampung memiliki city branding yang khas dan mengena bagi siapa saja yang berkunjung ke Kota ini, Kota yang bisa menjadi Kota Modern dengan tidak mengesampingkan kearifan lokal yang sudah ratusan tahun ada padanya. Aamiin.
Salam. Tabik pun